20 Jan 2010

MENGGAPAI HIDUP BERKAH

Menggapai Hidup Berkah
K.H. Abdullah Gymnastiar

________________________________________
Bismillahirrahmaanirrahiim

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(Q.S. Al-A'raaf : 96)


Mengapa uang yang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yang diperoleh melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? sebenarnya penyebabnya sederhana sekali, yakni bahwa semua itu tidak barokah.

Kita tidak boleh cukup senang memiliki sesuatu. Tetapi yang harus lebih kita senangi adalah keberkahan atas segala sesuatu itu.Jadi bukan takut tidak memiliki sesuatu tetapi harus lebih takut sesuatu yang sudah dimiliki tidak membawa berkah.
Kita lihat, misalnya suatu rumah yangga yang penuh dengan percekcokan, sebenarnya harus dicurigai jangan-jangan prosedur, keilmuan, dan etika dalam mengarungi dunia rumah tangga tidak cocok dengan yang disyariatkan Allah.

Maka, kita harus sangat takut dengan hidup yang tidak berkah, yaitu yang tidak bermanfat bagi dunia juga tidak bermanfaat bagi akhirat. Mulailah berhati-hati dengan uang. Bagaimana supaya uang menjadi berkah? Seperti halnya gelas. Gelas hanya bisa enak digunakan untuk minum kalau terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. jangan sekali-kali kita mencoba untuk tidak jujur. untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah yang memberi. Rizki penjahat datang dari Allah, rizki orang jujur juga datang dari Allah. Bedanya, rizki yang diberikan kepada penjahat tadi haram, tidak berkah, sedangkah yang diberikan kepada orang jujur adalah rizki yang berkah. Sebab sebenarnya meskipun penjahat, kalau Allah tidak memberi, tidak pernah dia dapatkan hasilnya. Banyak pencuri yang gagal, koruptor yang gagal. Semua itu karena kehendak Allah.

Sesudah kita jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hal-hak orang lain yang terampas atau belum tertunaikan, apalagi hak ummat. Na'udzubillahi min dzalik.
Alkisah, Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah meridhainya-, ketika beliau sedang mengerjakan tugas negara malam hari di rumahnya, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu kamar. KEmudian beliau membuka pintu dan lampu di kamar tersebut dimatikannya. Si anak lalu bertanya, "Kenapa lampu engkau matikan , ya Abi?" lalu beliau menjawab, "Karena minyak pada lampu ini milik negara. Tidak layak kita membicarakanurusan keluarga dengan menggunakan asilitas negara", begitulah Umar, sangat hati-hatinya karena mengharapkan hidupnya mendapat ridha dan berkah dari Allah swt.
Dari cerita yang dikisahkan di atas mengandung berbagai hikmah yang dapat kita teladani.

Menggunakan jabatan dan wewenang yang sangat membawa berkah tiada lain kecuali mengenyampigkan kepentingan dan kesenangan pribadi di atas hak dan kesenangan Allah.
Harta kekayaan yang melimpah yang kita kuasai, yang membawa berkah, tiada lain kecuali harta yang bersih yang tertunaikan kewajiban-kewajibannya baik hak orang lain apalagi hak ummat.

Wallahu a'lam bishshawab.

KELUARGA KUNCI KESUKSESAN

Keluarga Kunci Kesuksesan
K.H. Abdullah Gymnastiar

________________________________________
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun
karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah
dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!
Penyebab kegagalan seseorang diantaranya :

• Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai
untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.

• Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.
Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:

• Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.

• Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.

• Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.

• Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.

• Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

BEKAL UTAMA RUMAH TANGGA BAG : 1

Bekal Utama Berumah Tangga (Bagian Ke-1)
Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga. Dia
memperdalamkan pengetahuan agama kepada mereka. Menjadikan anak-anak mereka menghormati orang tua mereka. Memberikan kemudahan pada kehidupan mereka. Kesederhanaan dalam nafkah mereka dan memperlihatkan aib mereka, sehingga mereka menyadarinya,lalu menghentikan perbuatannya. Namun,apabila menghendaki sebaliknya, Dia meninggalkan dan menelantarkan mereka.” (H.R. Daaruqthni )

Semoga Allah yang Maha Mengatur Segala Kejadian serta Maha Memudahkan Segala Urusan melindungi hamba-hamba-Nya dari sikap berkecil hati,terutama manakala kepada kita dikaruniakan niat dan keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Sebagian kecil dari kisah kehidupan yang terpapar berikut ini, masya Alloh,telah menunjukan kepada kita betapa tidak mudah mengayuh bahtera rumah tangga itu. Tidak cukup hanya diawali dengan keinginan untuk menikah belaka. Karena, ternyata tidak sedikit pasangan yang telah memasuki dunia rumah tangga menemui kenyataan bahwa pergantian hari-harinya telah menjadi pergantian kesusahan yang satu ke kesusahan berikutnya. Pernik-pernik masalah seakan telah menjadi seluruh dinding rumahnya.

Seorang ibu rumah tangga yang mengaku telah 16 tahun berumah tangga serta telah dikaruniai 3
orang putra-putri yang sehat dan cerdas, menumpahkan keluhan mengenai masalah rumah tangganya di rubrik konsultasi sebuah surat kabar. Dari segi materi duniawi, mereka keluarga yang
berkecukupan karena keduanya bekerja di kantor.

Akan tetapi, ada ganjalan yang semula diabaikan dari pikiran sang istri. Ia merasakan
pernikahannya terasa manis pada hari Sabtu dan Minggu saja, yakni ketika keduanya tidak ngantor, sehingga dapat berkumpul dengan seluruh keluarga. Selebihnya, dari Senin sampai Jumat, terasa hambar. Suaminya berkantor di sebuah gedung pusat perkantoran modern, yang menurut anggapan sang istri,tentulah setiap harinya akan bertemu dengan segala macam wanita, dari yang berbusana minim sampai yang bergaun sebatas tumit. Pemandangan semacam itu akan ditemui sang suami dari Senin hingga Jumat. Sedangkan, sang istri mengaku penampilannya di rumah biasa-biasa saja. Kini ia rasakan tidak lagi seramping dulu. Rata-rata suaminya pergi ke kantor sejak subuh dan pulang malam hari. Artinya, selama 15 jam setiap harinya. Ketika tiba di rumah pun, kegiatan-nya hanya makan malam , lalu pergi tidur. Begitu yang terjadi setiap hari. Suaminya seperti sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang-bincang dengannya. Kalaupun ia bertanya tentang sesuatu , jawaban yang keluar dari mulut sang suami singkat-singkat saja. Kalau suatu ketika ia bercerita tentang sesuatu, ia tidak tahu apakah didengarkan atau tidak karena suaminya Cuma diam dan acuh tak acuh. Kalaupun mengomentarinya, pastilah kata-kata yang terlontar itu berbau memojokkan sang istri.

Satu hal yang paling ia benci adalah saat tiba hari Minggu malam. Sepulang dari suatu tempat
,biasanya suaminya mulai ketus. Bahkan tidak jarang keduanya terlibat lagi dipersoalkan sang
suami adalah sikap sang istri yang dinilai cerewet dan suka mengatur. Suaminya mulai bersikap
baik lagi kalau tiba Jumat malam. Karena, Sabtu paginya mereka akan berkumpul bersama lagi
hingga Minggu petang. Yang lebih repot lagi, ia sering bermimpi bahwa suaminya menyeleweng
dengan wanita lain. Sehingga, kalau sang suami lagi tampak terdiam melamun, ia pun langsung
teringat akan mimpinya tersebut. Karuan saja dari hari ke hari kian bergumpal kecemasan dan
kegelisahan yang tak berujung dan berpangkal.

Itulah gambaran tentang satu sisi getir dari kehidupan berumah tangga, yang bias dialami oleh
siapa saja, tanpa terkecuali. Lebih-lebih pada pasangan muda, yang notabene pengalaman berumah tangganya masih sedikit. Tentu cerita nyata ini tidak mengajak siapa pun untuk bersikap
pesimistis dan cemas sebelum berbuat. Bagaimanapun pernik-pernik problematika rumah tangga
semacam ini bisa juga terjadi menimpa kita. Terutama, kalau ada sesuatu yang tidak sempat kita
persiapkan, baik sebelum memasuki gerbang pernikahan maupun setelah menjalani kehidupan berumah tangga. Faktor-faktor apa saja yang perlu kita persiapkan itu? Mudah-mudahan beberapa “resep” ini kalau dicoba diterapkan, bisa membuat perjalanan pernikahan yang kita titi menjadi indah dan menenteramkan kalbu.

Bekal Ilmu

Faktor yang pertama adalah bahwa sebuah rumah tangga akan menjadi kokoh,kuat, dan mantap kalau suami istri sam-sama mencintai ilmu. Rasullulah SAW pernah bersabda,”Barangsiapa yang
menginginkan dunia,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan
akhirat,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat
(mendapatkannya pun) harus memakai ilmu.”

Artinya, bila ada yang bertanya, mengapa rumah tangga yang dijalaninya terasa berat, banyak
kesulitan, dan tidak menemukan kedamaian, jawabannya adalah karena ternyata ilmu tentang berumah tangga yang dimiliki tidak sebanding dengan masalah yang dihadapi. Setiap hari akan selalu bertambah maslah, kebutuhan, maupun peluang munculnya konflik. Semua ini merupakan kenyataan hidup yang tidak akan pernah bisa dipungkiri .Bila pertambahan segala pernik kehidupan ini tidak diimbangi dengan pertambahan ilmu untuk menyiasatinya, maka pastilah sebuah keluarga tidak akan pernah mampu menghadapi hidup ini dengan bai Jangan heran kalau rumah tangga yang seperti ini bagaikan perahu yang kelebihan muatan. Dia akan tampak oleng, miring ke kiri, tak mau melaju denhgan semestinya, bahkan bias-bisa akan tenggelam karam.

Adapun ciri khas yang tampak adalah para penghuni rumah tangga itu selalu sangat mengandalkan
emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(Q.S.Shaad [38]:26

ManajemenQolbu.Com : Ciri khas yang tampak dari keluarga yang tidak memiliki ilmu dalam berumah tangga adalah para penghuninya selalu sangat mengandalkan emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul . Betapa tidak ! Karena, mereka tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi masalah yang selalu muncul seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga. Seorang ayah yang kurang ilmu akan sangat mengandalkan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan yang muncul. Ini dikarenakan semakin hari tuntutan kebutuhan hidup terus meningkat , sehingga potensial akan bertumpuk dalam pikiran , berjalin berkelindan dengan beban stressing mental karena rutinitas kesibukan kantor.Manakala iman tengah menipis, kendati batin pun akan mengendur. Ini mengakibatkan tindakan mencari nafkah untuk mengatasi pertambahan kebutuhan tersebut menjadi kurang terkontrol. Tak ayal , pertimbangan halal haram dan hak bathil pun jadi tertepiskan. Keberkahan atas rezeki yang diperoleh pun praktis terkikis. Ketika rezeki itu telah dinikmati oleh istri dan anak-anak di rumah, maka tidak bisa tidak , ia bukannya membuahkan ketenangan batin, melainkan kegundahgelisahan, yang ujung-ujungnya malah bisa menaikkan kadar emosionalitas sang ayah.

Sementara itu, anak-anak semakin hari semakin beranjak besar. Ketika masih bayi mereka butuh
perhatian khusus. Keterbatasan ilmu orang tua, tidak bisa tidak, akan mengakibatkan bayi menjadi
teraniaya, baik ketika itu maupun setelah mereka besar kelak. Tidakkah kalau mereka menjadi
penyakitan karena orang tua tidak mengetahui cara memperhatikan aspek kesehatan mereka, akan membuat mereka menjadi sengsara dan menderita hidup di dunia? Tidakkah kalau mereka kelak menjadi rendah kadar intelektualitasnya, akan membuatnya tidak memiliki prestasi hidup,
sehingga menjadi manusia yang gagal dan tersisihkan? Bukankah kalau kelak mereka menjadi
anak-anak nakal, tersesat dari jalan yang benar akan membuat mereka menderita dunia akhirat ?
Masih banyak lagi akibat buruk lainnya yang akan menimpa anak-anak karena kita para orang tua
tidak memiliki bekal ilmu.

Belum lagi kalau pihak orang tua terlalu mengandalkan emosi dan kekerasan , sehingga praktis
segala pendekatan yang kita gunakan hampir bisa dipastikan selalu membuahkan kegagalan dalam
memecahkan masalah. Menghadapi anak-anak yang nakal dan enggan menuruti nasihat orang tua,
misalnya. Tentulah akan didekati dengan kepala and hati yang panas membara. Menghadapi istri
yang terkesan rewel , sok mengatur, dan mulai membosankan , atau sebaliknya, menghadapi suami yang terkesan otoriter , banyak tuntutan , sering telat pulang ke rumah, misalnya. Tentulah
semua itu akan membuat rumah menjadi terasa gerah karena darah yang selalu bergolak panas.
Na’udzubillah!

Walhasil, sekiranya ada diantara suami-istri yang jarang mendatangi majelis-majelis ilmu,
enggan menyisihkan waktu untuk membuka bahan bacaan ataupun berdialog dengan orang yang lebih tahu, hampir dapat dipastikan rumah tangganya akan tidak seimbang, akan selalu dekat dengan kesusahan dan penderitaan batin, tidak arif dalam menyelesaikan aneka masalah, dan bukan mustahil akan berujung pada kegagalan yang sangat menyakitkan dan merugikan. Oleh karena itu, tampaknya kita harus mempersiapkan bekal ilmu ini justru semenjak kita berkeinginan untuk menikah. Atau, kalaupun kita sudah lama berumah tangga , belum terlambat untuk menyadari bahwa ilmu adalah bekal utama yang harus segera digapai. Jangan merasa sayang untuk menyisihkan sebagian dari waktu maupun penghasilan nafkah kita untuk menambah ilmu. Apakah itu untuk membeli buku dan bahan bacaan lainnya yang dibutuhkan, untuk mendatangi
majelis-majelis ta’lim yang di dalamnya justru tidak hanya bertaburkan ilmu, tetapi juga rahmat
dan pertolongan Allah , mengikuti training, kursus, dan sejenisnya.

Ingat, gagalnya seorang ayah atau ibu dalam menyelesaiakan aneka masalah yang muncul di
tengah-tengah keluarga, bukannya karena masalahnya yang berat atau rumit, melainkan lebih
dikarenakan lemahnya keterampilan dan sikap kita dalam menyikapi dan menyiasati masalah itu
sendiri.

Jangan salahkan siapapun kalau rumah tangga kita dari hari ke hari selalu terasa runyam dan
tidak nyaman. Salahkanlah diri sendiri sebagai orang tua yang enggan menjadikan ilmu sebagai
bekal utama untuk mengarungi samudera kehidupan yang memang penuh ombak dan badai ini. Ilmu
agama adalah utama, tetapi ilmu dunia pun tak kalah pentingnya. Rumah tangga yang tidak dekat
dengan ilmu adalah rumah tangga yang akan selalu dekat dengan kesusahan dan kesempitan.
Camkanlah!

Gemar Beramal

Ternyata setiap ilmu itu tidak membawa manfaat, kecuali bila sudah mewujud dalam bentuk amal.
Rumus kehidupan ini sebenanya sederhana saja, yakni: seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diinginkan, tetapi dari apa yang bisa ia lakukan. Karenanya, syarat yang kedua bagi tercapainya rumah tangga yang ideal setelah menguasai ilmu adalah gemar mengamalkannya. Hidup ini bagaikan gaung di pegunungan. Apa yang kembali kepada kita tergantung dari apa yang kita bunyikan. Sekiranya menginginkan suatu kebaikan menghampiri kita, maka ia tidak bisa datang hanya dengan cara meminta orang lain berbuat baik. Akan tetapi, terlebih dulu harus melakukan suatu kebaikan kepada orang lain.

Suami yang sibuk menyayangi dan membahagiakan istrinya lahir batin, niscaya akan mendapatkan
balasan yang amat mengesankan dari sang istri. Demikian pun kalau istri ingin disayangi dan
dibahagiakan suami. Jawabannya hanya satu : barangsiapa bisa memuliakan suaminya dengan ikhlas, Allah pun akan melembutkan hati sang suami untuk menyayanginya dengan penuh keikhlasan pula.


“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.
Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”(Q.S. Al-An’aam [6]: 132)
Jangan menuntut sesuatu kepada orang lain, tetapi tuntutlah terlebih
dahulu diri kita untuk berbuat suatu kebaikan semaksimal mungkin. Tidakkah Allah Azza wa Jalla
telah berfirman,”Barangsiapa yang mengerjakan kebaiakan sebesar dzarrah pun,niscaya ia akan
melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya
ia akan melihat (balasannya) pula. ?”(Q.S. Az-Zalzalah[99]:7-8 ). Artinya, segalanya tergantung
kita. Sesungguhnyalah balasan Allah itu akan sangat dirasakan adilnya mana kala kita menyadari
satu hal, yakni bahwa segalanya akan kembali kepada kita, tergantung apa bentuk amal yang
dilakukan.
Camkan sekali lagi :bahwa kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang kita inginkan dan
harapkan, tetapi kita akan mendapatkan banyak dari apa yang diberikan. Semakin gemar bersedekah,
maka insya Allah akan semakin melimpah rezeki hak kita dari -Nya. Semakin senang menolong orang
lain, akan semakin banyak pula orang menolong kita. Semakin kita biasakan untuk membahagiakan
dan memudahkan urusan orang lain, maka rasakanlah, betapa akan semakin banyak hal-hal yang dapat
mendatangkan kebahagiaan sementara segala urusan kita pun dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Hendaknya di mana kita berada harus membuat orang lain merasa diuntungkan dengan kehadiran
kita. Setidaknya keberadaan kita jangan sampai merugikan orang lain. Rumah tangga yang memiliki
komitmen hidup semacam ini niscaya akan mendapati betapa jaminan Allah itu teramat
mengesankan. “ Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka
sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Menegtahui.”(Q.S. Al-Baqarah[2]: 158)

Sebaliknya, semakin pelit kepada orang lain, maka hidup ini akan terasa banyak menemukan
kesulitan. Semakin senang berlaku aniaya terhadap orang lain, niscaya akan semakin banyak yang
menzhalimi kita. Demikian pun, rumah tangga yang banyak menyakiti orang lain, niscaya akan
menjadi rumah tangga yang banyak tersakiti pula. Inilah rumus sunatullah yang akan dialami
oleh siapapun, sebagaimana pula yang telah ditegaskan oleh-Nya, “Dan masing-masing orang
memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah
dari apa yang mereka kerjakan. “(Q.S. Al –An’aam[6]:132)

Jadi,janganlah ingin menjadi suami yang disayangi istri, tetapi jadilah suami yang menyayangi
istri. Janganlah ingin dihormati oleh anak-anak atau mertua, namun hormatilah mereka. Nanti toh
semuanya akan kembali kepada kita jua. Janganlah ingin diberi sesuatu oleh tetangga, namun
berilah mereka. Nanti Allah akan menggerakkan hati mereka untuk mengulurkan tangan bantuannya
kepada kita. Walhasil, rumus yang kedua setelah ilmu sebagai bekal utama dalam berumah tangga,
adalah hendaknya di mana pun kita berada menjadi orang yang selalu bisa berbuat sesuatu. Itulah
amal-amal kebaikan.

Ikhlas

Ternyata sehebat apapun amal-amal kita tidak akan bermanfaat dihadapan Allah, kecuali
amal-amal yang dilakukan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang berbuat sesuatu
tanpa berharap mendapatkan apa pun ,kecuali ingin disukai oleh Allah. Inilah bekal utama ketiga
dalam berumah tangga. Dalam mengarungi kehidupan ini akan banyak didapati aneka masalah. Kita
pasti akan menemukan berbagai kesulitan ,kesempitan, dan kesengsaraan lahir batin, kecuali kalau
mendapat pertolongan-Nya. Allah tahu persis kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri.
Dia tahu persis masalah yang akan menimpa kita , lebih tahu daripada kita sendiri. Karenanya,
Allah menjanjikan , “Wa man yattaqillah yaj’allahu makhrajan.” (Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2) Rumah
Tangga yang terus-menerus meningkatkan ketaatannya kepada Allah , akan senantiasa dikaruniai
oleh-Nya jalan keluar atas segala urusan dan masalah yang dihadapinya. Anak-anak membutuhkan
biaya , Allah akan mencukupi mereka karena Dia Dzat yang Mahakaya. Pelacur,perampok, dan
orang-orang zhalim saja diberi rezeki,bagaimana mungkin anak-anak kita dilalaikan-Nya? Suami
hatinya keras membatu, otoriter, dan suka bertindak kasar, apa sulitnya bagi Allah
membolak-balikkan setiap hati, sehingga menjadi berhati lembut,baik, dan bijak.

Masalahnya, adakah keluarga kita layak mendapat jaminan-Nya ataukah tidak? Kuncinya adalah
bahwa rumah tangga yang selalu dekat kepada Allah dan sangat menjaga keikhlasan dalam
beramal, itulah rumah tangga yang layak memperoleh jaminan pertolongan -Nya. Semakin suatu
rumah tangga jarang shalat, enggan bersedekah dan menolong orang lain, malas melakukan
amal-amal kebaikan, ditambah lagi berhati busuk, maka semakin letihlah dalam mengelola rumah
tangga ini. Rumah seluas apa pun akan tetap terasa sempit kalau hati para penghuninya sempit.
Ketika berada di lapangan yang luas , lalu menemukan anjing atau ular, kita toh tidak merasa
gentar. Akan tetapi, ketika di kamar mandi , berdua dengan tikus saja bisa jadi masalah. Apa
sebab ? Di ruangan kecil, perkara kecil akan menjadi besar. Sebaliknya diruangn yang lapang,
perkara besar akan menjadi kecil. Karenanya, rumah tangga itu akan dirasakan kebahagiaannya
hanya oleh orang-orang yang berhati bersih dan ikhlas. Bila kita temukan beberapa kekurangan
pada istri kita , bukan masalah , karena toh isteri kita bukan malaikat. Demikian pun kekurangan
yang ada pada suami, janganlah sampai jadi masalah, karena suami pun bukan malaikat. Kekurangan
yang ada untuk saling dilengkapi, sedangakan kelebihannya untuk disyukuri. Lain lagi,bagi yang
berhati busuk, kekurangan yang ditemukan pada istri atau suami akan dijadikan jalan untuk saling
berbuat aniaya. Na’udzubillah!

“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji. apa yang ada dalam hatimu Allah Maha Mengetahui
isi hati”(Q.S. Ali Imran [3]: 154)

Dalam kaca mata ruhiyah,bersatunya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam satu ikatan pernikahan, adalah berhimpunnya dua hati yang memiliki harapan mulia, yakni membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Demikianlah sesungguhnya yang dikehendaki Allah yang memiliki sifat Rahman dan Rahim, sebagaimana firman-Nya, “Dan diantara bukti-bukti kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati dan dijadikan-Nya rasa kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran –Nya bagi orang-orang yang berpikir.”(Q.S. Ar-Ruum [30]: 21)

Namun, dalam sisi lain, ternyata ikatan pernikahan itu berarti juga berhimpunnya dua manusia
yang memiliki aneka sisi perbedaan. Demikian pula halnya manakala dikemudian hari hadir
anak-anak di tengah-tengah mereka. Jenis kelaminnya saja sudah berbeda, apalagi karakternya,
emosinya, keinginannya ,harapannya, sikapnya terhadap sesuatu, dan sebagainya.

Kalaupun sepasang suami istri tampak sering sejalan dalammenyikapi dan melakukan berbagai hal,
itu hampir dapat dipastikan karena ada upaya dari masing-masingnya untuk rela saling menahan
diri serta saling mengorbankan apa-apa yang potensial bisa memicu perbedaan itu sendiri.
Walhasil, lahirlah dalam rumah tangga yang mereka bina perasaan tenteram,lapang hati , dan
cinta kasih.

Itulah pula hikmah dari pernikahan itu sendiri, yakni dikaruniai-Nya mereka nikmat sakinah,
mawaddah, warahmah. Titik-titik perbedaan itu sendiri, sewaktu-waktu bisa muncul ke permukaan, terutama bila diantara mereka sudah tumbuh keinginan untuk saling memaksakan kehendak dan enggan saling menghargai aspirasi masing-masing. Apalagi dan biasanya kalau semua itu lahir dari karakter dan tingkat emosionalitas masing-masing. Tidak jarang kita temukan rumah tangga yang hari-harinya penuh dengan pertengkaran dan kesalahpahaman , sehingga tidak sedikit berakhir dimeja perceraian.

Inilah justru bagian dari fenomena yang mungkin akan dihadapi oleh setiap pasangan suami istri,
sehingga kita butuh bekal yang efektif untuk menyikapi dan menyiasatinya, agar kemungkinan
munculnya potensi konflik semacam ini bisa dihilangkan atau setidak-tidaknya diminimalisasi.
Apakah bekal yang harus kita miliki itu ? Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla mengaruniai kita
ilmu yang bermanfaat serta kesanggupan untuk mengamalkannya dengan tepat.

Bersih Hati

Setiap saat ujian dan aneka masalah bukan tidak mungkin akan datang mendera rumah tangga dengan tiba-tiba. Bagaimana seorang suami atau seorang istri menyikapinya, ternyata tergantung dari satu hal, yakni qalbu ! Terserah kita, apa yang akan kita lakukan dengan masalah itu? Mau
dibuat rumit, perumitlah. Nanti kita sendiri yang akan melihat dan merasakan buahnya.Namun, mau
dibuat sederhana juga, silakan sederhanakan , nanti kita pun akan melihat dan merasakan
buahnya.

Setiap masalah dalam rumah tangga bisa menjadi rumit dan bisa juga menjadi sederhana,tentu
bergantung bagaimana kondisi hati kita yang kita miliki, yang akhirnya membuat kita harus
memutuskan langkah bagaimana menyikapinya. Padahal,bagi kita kuncinya hanya satu : sesungguhnya tak ada masalah dengan masalah karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi masalah.

Oleh sebab itu, hati yang bersih adalah bekal utama keempat yang harus dimiliki oleh para
pelaku rumah tangga, setelah memiliki bekal ilmu , amal,dan keiklasan. Bersih hati,tidak bisa
tidak, akan menjadi senjata pamungkas dalam menyiasati serumit dan sesulit apapun masalah yang muncul dalam sebuah keluarga. Adapun buahnya hampir dapat dipastikan adalah rumah tangga yang tenang tenteram, penuh cinta kasih , dan selalu saling mengingatkan dalam hal mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedangkan rumah tangga yang di dalamnya banyak disebut nama Allah, banyak dikumandangkan ayat-ayat -Nya, dan mampu menyempurnakan ikhtiar dalam mencari jalan keluar atas setiap masalah,niscaya akan menjadi keluarga yang sangat dekat dengan pertolongan–Nya dan akan menjadi suri tauladan bagi yang lain.

Subhanallah! Ujian dan masalah rumah tangga memang akan datang setiap saat, suka atau tidak
suka. Namun,bagi suami dan istri yang berhati bersih ,semua itu akan disikapi sebagai nikmat
dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena, bagaimanapun dibalik setiap ujian dan
masalah itu pasti terkandung hikmah yang luar biasa mengesankan, yang akan semakin
meningkatkan,kedewasaan dan kearifan, sekiranya mampu menyikapi segalanya dengan tepat , yang hal ini justru lahir dari hati yang bening dan bersih dari segala noktah-noktah kekotoran hawa nafsu.

Ujian dan persoalan hidup yang menimpa justru benar-benar akan membuat kita semakin merasakan indahnya hidup ini karena yakin bahwa semua itu merupakan perangkat kasih sayang Allah, yang membuat sebuah rumah tangga tampak semakin bermutu. Tidak usah heran, sehebat apapun kesulitan hidup yang menimpa, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam.

Tidak usah heran, sehebat apa pun kesulitan hidup yang menimpa , sungguh bagaikan air di relung
lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang meski ombak dan badai saling menerjang. Pun
laksana karang yang tegak tegar, yang tak akan pernah bergeser saat dihantam gelombang sedahsyat apapun. Sekali-kali tidak akan terbersit rasa putus asa ataupun keluh kesah berkepanjangan.
Memang, betapa luar biasa para penghuni rumah tangga yang memiliki hati yang bersih. Nikmat
datang tak akan pernah membuatnya lalai dari bersyukur. Andai pun musibah yang menerjang, ia
akan mampu menegndalikan kayuh bahtera dengan tenang. Subhanalloh, sungguh teramat menegesankan.
Wallahu a’lam Bisshowab .

KIAT-KIAT MEMPERERAT PERSAUDARAAN

1.Mendahulukan sanak famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih saying yang besar sehinga seorang anak wajib mencinti, menghormati, dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orang tuanya berhak mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kemusyrikannya. Apabila mereka fakir, maka kewajiban kitalah yang yang membantunya pertama kalli kemudian saudara – saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yang seiman.

2. Mengingat kebaikan sanak family kita, boleh jadi tanpanya kita mungkin kita tidak akan berarti.

3. Menghafal nasab dan seluruh nama – nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek keatas sampai kepada keturunan – keturunan mereka. Untuk hal ini sebaiknya kita membuat diagram silsilah keluarga agar dapat diingan oleh generasi berikutnya supaya mereka tetap melanjutkan tali silaturrahmi setelah kita tiada.

4. Jangan menyakiti, menzalimi dan berbuat buruk kepada sanak family kita. Sebaiknya kitalah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.

Orang – orang yang menjaga silahturrahim dijanjikan mendapat keluasan rizki dan diberkahi umurnya. Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya ( diberkahi), maka hendaknya ia bersilahturrahim.” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, jangan sampai terjadi ikatan pernikahan yang mulia membubarkan kekerabatan kita. (Anna)

MENARA SIGER PROVINSI LAMPUNG

SEBUAH ikon Lampung ditancapkan di segunduk bukit di salah satu sisi ujung Pulau Sumatera, Bakauheni. Menara Siger. Dari tempat ini, kawasan dengan sohor nama pelabuhan akan disulap menjadi kawasan pariwisata utama di Lampung.

-----------

Semilir angin laut di pergantian musim kering dan musim hujan menghadirkan dingin yang cukup ekstrem. Pada saat tertentu, terik dan panas mengambang memanggang tubuh. Tetapi, sesaat kemudian, bisa jadi teduh mega memayungi wilayah Bakauheni dan mengundang hujan yang menyulut ceracap cuaca beku ke tulang. Bakauheni di masa pancaroba memang demikian.

Kapal feri yang mengantar penumpang dari Merak, Banten, menuju Bakauheni yang hendak sandar, menarik perhatian ratusan pasang mata yang berada di atas kapal. Maklumlah, setiap kapal hendak sampai pulau tujuan, selalu ada rasa penasaran tentang bagaimana wajah daratan yang akan diinjaknya beberapa saat kemudian.

Pandangan seluruh penumpang tertuju kepada seunit bangunan menjulang warna kuning bertanduk sembilan di atas bukit. Kemegahan terlihat karena bangunan itu seperti memahkotai seunit bukit yang mengerucut di tengah belukar dan latar bukit-bukit lain. Ada beberapa menara telekomunikasi, tugu pintu gerbang, dan baliho-baliho iklan produk perusahaan, tetapi menara itu mendominasi pemandangan.

Itulah Menara Siger. Suatu bangunan megah, tinggi, dan berbentuk mahkota wanita pakaian adat Lampung yang agung. Dirancang sebagai menara pandang di atas bangunan-bangunan serba guna dan sekat-sekat khusus untuk berbagai keperluan acara, terutama yang bernuansa budaya Lampung.

Kebesaran Lampung memang tidak sesempit bangunan Kompleks Menara Siger yang hanya berada di atas bukit. Namun, dalam kompleks itu sedapat mungkin berupaya mengakomodasi berbagai keperluan budaya dan rekreasi warga Lampung. Selain bangunan utama yang luas, selasar dan halaman dengan berbagai pondok untuk berbagai fungsi juga didirikan. Tangga beton yang tinggi dan lebar tampak terlihat dari arah laut menatah kemiringan bukit. Juga bangunan-bangunan pendukung lain yang dipandu taman hijau dan halaman ber-paving block membuat kemegahan kompleks bangunan itu terlihat bersih berlatar lebar.

Masih dari atas kapal feri, pandangan terlempar tidak hanya ke Menara Siger. Di belakang menara itu, jalur jalan yang berkelok mendaki bukit-bukit ke arah bandar Lampung juga tampak jelas. Kendaraan berbagai jenis seperti semut mengantre menunggu giliran menuju tempat tujuan. Jika malam hari, sinar lampu-lampu kendaraan itu seperti barisan kunang-kunang menembus kegelapan malam. Sementara itu, rimbunan berbagai pohon menghijaukan pandangan sekitarnya.

Mengalihkan pandangan ke sisi lain, pulau-pulau di seputar Bakauheni memang memiliki pesona cukup menarik hati. Di sebelah kanan, kecipak nelayan pancing dengan perahu katir dan dayung tawaduk menunggu umpan disambar rezeki laut. Gelombang yang relatif bersahabat membuat pantai di pulau-pulau itu terlihat utuh berpagar pohon-pohon bakau yang merimbun. Mungkin, para pemimpin provinsi ini membayangkan para turis bermain pasir dan berjemur di pantai ini sehingga merencanakan kawasan ini sebagai pusat pariwisata Lampung.

Impian itu tidak berlebihan. Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta yang bisa dicapai dengan feri dalam 2--3 jam, wilayah ini menjadi alternatif tempat rekreasi yang mengundang daya tarik wisatawan Jakarta. Terlebih dengan Jakarta yang makin melebar dalam arti keramaian dan kepadatannya yang terus merangsek Banten dan mentok di Merak. Tidak heran jika kemudian Merak atau Cilegon menjadi bagian dari Jakarta dari sisi sosial budaya.

Beberapa pulau di seputar Bakauheni adalah pesona yang belum dipoles dengan kilau fasilitas yang bisa memanjakan pengunjung. Tak salah jika pemerintah provinsi akan berkata "welcome" kepada investor untuk membangun resor, hotel, atau tempat-tempat wisata yang aduhai di tempat ini.

Pelayaran Selat Sunda yang sibuk bukanlah halangan, tetapi justru bisa menjadi daya tarik tersendiri yang menghadirkan suasana aman pengunjung. Lalu-lalang kapal-kapal itu adalah jaminan keselamatan.

Menara Siger adalah sebuah monumen awal untuk tujuan kawasan wisata masa depan. Bangunan yang memiliki panjang 50 meter dan tinggi 30 meter itu akan menjadi daya tarik investasi, jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) dengan pemancangan pipa gelagar pada Januari 2009, seperti yang dinyatakan Gubernur Sjachroedin Z.P. saat ia meresmikan menara itu beberapa waktu lalu.

Mengalihkan posisi diri dari lokasi Menara Siger, pemandangan menjadi sedikit berbeda. Ada laut yang spektakuler dan pulau-pulau kecil bertebar di hamparan samudera yang membiru.

Tidak perlu heran, Menara Siger yang dibangun di atas tanah milik PT ASDP Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selaan itu, akan menjadi sentra pariwisata di pintu Gerbang Pulau Sumatera pada masa datang. Pada ketinggian 300 meter di barat Pelabuhan Bakauheni, Menara Siger adalah tempat yang paling dianjurkan bagi pengguna jalan lintas Sumatera (jalinsum) yang melintasi Pelabuhan Bakauheni, untuk menikmati panorama alam.

Dari tempat itu, mata menatap kearah timur, disuguhi keindahan Anak Gunung Krakatau tertimpa biasan sinar matahari saat menjelang sore. Ke arah barat terlihat lalu lalang kapal feri tujuan Bakauheni--Merak. Dan di selatan mata memandang pasar tradisional dan perkampungan.

Di puncak bukit ini adalah tempat yang paling strategis untuk melihat sekeliling kawasan Bakauheni. Memang, pemandangan utama yang langsung memaksa mata memandangnya adalah keangkuhan bangunan dan beton-beton dermaga Pelabuhan Bakauheni. Namun, jika dinikmati dengan saksama, aktivitas pelabuhan kapal antarpulau tersibuk di Indonesia itu juga menghadirkan keunikan sosial yang memberi inspirasi dan kedalaman makna budaya. Juga, sebuah materi tamasya sosial yang memberi citra kinerja dan dinamika yang amat cepat.

Di lepas penglihatan, sejauh mata memandang kedepan, barisan puluhan kepulauan terapung indah, dengan diwarnai seliweran kapal feri tujuan Bakauheni--Merak, Banten. Lekuk kurvanya yang sambung-menyambung, bagaikan spektrum, tidak melelahkan mata untuk memandang ke timur. Di sana tampak Anak Gunung Krakatau yang galak tampak lembut dibelai sinar matahari, yang dipadu hijau kebiruan hamparan lautan luas.

Menara Siger adalah sebuah ikon Lampung yang terletak di puncak bukit yang sejuk, yang berada tidak jauh dari pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lamsel--Merak, Banten yang tidak penah tidur. Di kaki bukit sana, terbentang jalan lintas sumatera (jalinsum) yang tembus ke Aceh dan jalan lintas pantai timur (jalinpatim).

Walau sekarang masih sepi dari kunjungan wisatawan, Menara Siger yang diresmikan mantan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., 1 Mei lalu itu, dapat menjadi daya tarik investasi. Terlebih, saat peresmiannya menghadirkan 30 duta besar negara sahabat. Daya tarik investasi untuk menciptakan tambang emas pada pendapatan asli daerah (PAD) itu makin nyata.

Jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembataan Selat Sunda (JSS) maka diharapkan akan dapat menyerap Rp200 miliaran pada masa mendatang.

Dari titik nol Pintu Gerbang Pulau Sumatera inilah, mata menaklukkan seluruh penjuru, menaklukan seluruh aktivitas pelabuhan bakauheni yang penuh kesibukan. "Hati siapa yang tidak tertarik untuk menikmati keindahan laut, Anak Gunung Krakatau, dan lalu lalang kapal feri dari menara ini?" kata Taufik, pemuda yang sengaja datang dari Pringsewu, Tanggamus. Di antara kesejukan pemandangan dari bukit Menara Siger, dia bergumam, "Belum lengkap datang ke Lampung Selatan kalau belum singgah ke Menara Siger."
SEBUAH ikon Lampung ditancapkan di segunduk bukit di salah satu sisi ujung Pulau Sumatera, Bakauheni. Menara Siger. Dari tempat ini, kawasan dengan sohor nama pelabuhan akan disulap menjadi kawasan pariwisata utama di Lampung.

-----------

Semilir angin laut di pergantian musim kering dan musim hujan menghadirkan dingin yang cukup ekstrem. Pada saat tertentu, terik dan panas mengambang memanggang tubuh. Tetapi, sesaat kemudian, bisa jadi teduh mega memayungi wilayah Bakauheni dan mengundang hujan yang menyulut ceracap cuaca beku ke tulang. Bakauheni di masa pancaroba memang demikian.

Kapal feri yang mengantar penumpang dari Merak, Banten, menuju Bakauheni yang hendak sandar, menarik perhatian ratusan pasang mata yang berada di atas kapal. Maklumlah, setiap kapal hendak sampai pulau tujuan, selalu ada rasa penasaran tentang bagaimana wajah daratan yang akan diinjaknya beberapa saat kemudian.

Pandangan seluruh penumpang tertuju kepada seunit bangunan menjulang warna kuning bertanduk sembilan di atas bukit. Kemegahan terlihat karena bangunan itu seperti memahkotai seunit bukit yang mengerucut di tengah belukar dan latar bukit-bukit lain. Ada beberapa menara telekomunikasi, tugu pintu gerbang, dan baliho-baliho iklan produk perusahaan, tetapi menara itu mendominasi pemandangan.

Itulah Menara Siger. Suatu bangunan megah, tinggi, dan berbentuk mahkota wanita pakaian adat Lampung yang agung. Dirancang sebagai menara pandang di atas bangunan-bangunan serba guna dan sekat-sekat khusus untuk berbagai keperluan acara, terutama yang bernuansa budaya Lampung.

Kebesaran Lampung memang tidak sesempit bangunan Kompleks Menara Siger yang hanya berada di atas bukit. Namun, dalam kompleks itu sedapat mungkin berupaya mengakomodasi berbagai keperluan budaya dan rekreasi warga Lampung. Selain bangunan utama yang luas, selasar dan halaman dengan berbagai pondok untuk berbagai fungsi juga didirikan. Tangga beton yang tinggi dan lebar tampak terlihat dari arah laut menatah kemiringan bukit. Juga bangunan-bangunan pendukung lain yang dipandu taman hijau dan halaman ber-paving block membuat kemegahan kompleks bangunan itu terlihat bersih berlatar lebar.

Masih dari atas kapal feri, pandangan terlempar tidak hanya ke Menara Siger. Di belakang menara itu, jalur jalan yang berkelok mendaki bukit-bukit ke arah bandar Lampung juga tampak jelas. Kendaraan berbagai jenis seperti semut mengantre menunggu giliran menuju tempat tujuan. Jika malam hari, sinar lampu-lampu kendaraan itu seperti barisan kunang-kunang menembus kegelapan malam. Sementara itu, rimbunan berbagai pohon menghijaukan pandangan sekitarnya.

Mengalihkan pandangan ke sisi lain, pulau-pulau di seputar Bakauheni memang memiliki pesona cukup menarik hati. Di sebelah kanan, kecipak nelayan pancing dengan perahu katir dan dayung tawaduk menunggu umpan disambar rezeki laut. Gelombang yang relatif bersahabat membuat pantai di pulau-pulau itu terlihat utuh berpagar pohon-pohon bakau yang merimbun. Mungkin, para pemimpin provinsi ini membayangkan para turis bermain pasir dan berjemur di pantai ini sehingga merencanakan kawasan ini sebagai pusat pariwisata Lampung.

Impian itu tidak berlebihan. Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta yang bisa dicapai dengan feri dalam 2--3 jam, wilayah ini menjadi alternatif tempat rekreasi yang mengundang daya tarik wisatawan Jakarta. Terlebih dengan Jakarta yang makin melebar dalam arti keramaian dan kepadatannya yang terus merangsek Banten dan mentok di Merak. Tidak heran jika kemudian Merak atau Cilegon menjadi bagian dari Jakarta dari sisi sosial budaya.

Beberapa pulau di seputar Bakauheni adalah pesona yang belum dipoles dengan kilau fasilitas yang bisa memanjakan pengunjung. Tak salah jika pemerintah provinsi akan berkata "welcome" kepada investor untuk membangun resor, hotel, atau tempat-tempat wisata yang aduhai di tempat ini.

Pelayaran Selat Sunda yang sibuk bukanlah halangan, tetapi justru bisa menjadi daya tarik tersendiri yang menghadirkan suasana aman pengunjung. Lalu-lalang kapal-kapal itu adalah jaminan keselamatan.

Menara Siger adalah sebuah monumen awal untuk tujuan kawasan wisata masa depan. Bangunan yang memiliki panjang 50 meter dan tinggi 30 meter itu akan menjadi daya tarik investasi, jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) dengan pemancangan pipa gelagar pada Januari 2009, seperti yang dinyatakan Gubernur Sjachroedin Z.P. saat ia meresmikan menara itu beberapa waktu lalu.

Mengalihkan posisi diri dari lokasi Menara Siger, pemandangan menjadi sedikit berbeda. Ada laut yang spektakuler dan pulau-pulau kecil bertebar di hamparan samudera yang membiru.

Tidak perlu heran, Menara Siger yang dibangun di atas tanah milik PT ASDP Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selaan itu, akan menjadi sentra pariwisata di pintu Gerbang Pulau Sumatera pada masa datang. Pada ketinggian 300 meter di barat Pelabuhan Bakauheni, Menara Siger adalah tempat yang paling dianjurkan bagi pengguna jalan lintas Sumatera (jalinsum) yang melintasi Pelabuhan Bakauheni, untuk menikmati panorama alam.

Dari tempat itu, mata menatap kearah timur, disuguhi keindahan Anak Gunung Krakatau tertimpa biasan sinar matahari saat menjelang sore. Ke arah barat terlihat lalu lalang kapal feri tujuan Bakauheni--Merak. Dan di selatan mata memandang pasar tradisional dan perkampungan.

Di puncak bukit ini adalah tempat yang paling strategis untuk melihat sekeliling kawasan Bakauheni. Memang, pemandangan utama yang langsung memaksa mata memandangnya adalah keangkuhan bangunan dan beton-beton dermaga Pelabuhan Bakauheni. Namun, jika dinikmati dengan saksama, aktivitas pelabuhan kapal antarpulau tersibuk di Indonesia itu juga menghadirkan keunikan sosial yang memberi inspirasi dan kedalaman makna budaya. Juga, sebuah materi tamasya sosial yang memberi citra kinerja dan dinamika yang amat cepat.

Di lepas penglihatan, sejauh mata memandang kedepan, barisan puluhan kepulauan terapung indah, dengan diwarnai seliweran kapal feri tujuan Bakauheni--Merak, Banten. Lekuk kurvanya yang sambung-menyambung, bagaikan spektrum, tidak melelahkan mata untuk memandang ke timur. Di sana tampak Anak Gunung Krakatau yang galak tampak lembut dibelai sinar matahari, yang dipadu hijau kebiruan hamparan lautan luas.

Menara Siger adalah sebuah ikon Lampung yang terletak di puncak bukit yang sejuk, yang berada tidak jauh dari pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lamsel--Merak, Banten yang tidak penah tidur. Di kaki bukit sana, terbentang jalan lintas sumatera (jalinsum) yang tembus ke Aceh dan jalan lintas pantai timur (jalinpatim).

Walau sekarang masih sepi dari kunjungan wisatawan, Menara Siger yang diresmikan mantan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., 1 Mei lalu itu, dapat menjadi daya tarik investasi. Terlebih, saat peresmiannya menghadirkan 30 duta besar negara sahabat. Daya tarik investasi untuk menciptakan tambang emas pada pendapatan asli daerah (PAD) itu makin nyata.

Jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembataan Selat Sunda (JSS) maka diharapkan akan dapat menyerap Rp200 miliaran pada masa mendatang.

Dari titik nol Pintu Gerbang Pulau Sumatera inilah, mata menaklukkan seluruh penjuru, menaklukan seluruh aktivitas pelabuhan bakauheni yang penuh kesibukan. "Hati siapa yang tidak tertarik untuk menikmati keindahan laut, Anak Gunung Krakatau, dan lalu lalang kapal feri dari menara ini?" kata Taufik, pemuda yang sengaja datang dari Pringsewu, Tanggamus. Di antara kesejukan pemandangan dari bukit Menara Siger, dia bergumam, "Belum lengkap datang ke Lampung Selatan kalau belum singgah ke Menara Siger."

15 Jan 2010

Pahlawan Pendidikan


Nama:
Ki Hajar Dewantara
Nama Asli:
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat
Lahir:
Yogyakarta, 2 Mei 1889
Wafat:
Yogyakarta, 28 April 1959

Pendidikan:
= Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda)
= STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat
= Europeesche Akte, Belanda
= Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957

Karir:
= Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara
= Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922
= Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.

Organisasi:
= Boedi Oetomo 1908
= Pendiri Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912

Penghargaan:
Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional
Pahlawan Pergerakan Nasional (surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

Ki Hajar Dewantara (1889-1959)
Bapak Pendidikan Nasional

Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.

Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.

Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

KH. MA'RUF AMIN (KETUA MUI)