26 Mei 2010

Rahasia hidup sukses nan mulya

Rahasia hidup sukses nan mulya bisa diraih dengan cara gampang & sederhana, hanya saja kita sering tak menyadari betapa rahasia hidup sukses nan mulya ini ada di dalam diri kita.....bacalah hingga tuntas tulisan berikut ini, dan anda akan terkejut sambil menertawakan diri sendiri...........pada bagian awal ini, anda diajak memilih untuk hidup susah atau senang..
_______________________________

Kehidupan kita di alam fana ini tidak lepas dari dua keadaan ini, yaitu “Susah” dan “Senang”. Orang bijak bilang kehidupan ini bagaikan roda pedati, sekali di atas sekali di bawah, artinya kadang-kadang senang kadang-kadang susah.
Pertanyaannya adalah,”sering dibagian mana roda pedati itu berhenti?”


DIMANA SUSAH DAN SENANG?
Susah dan senang adalah kondisi hati yang muncul karena dipicu karena faktor-faktor luar diri. Susah biasanya muncul karena: gak punya duit padahal kebutuhan banyak atau banyak yang nagih hutang, diputusin pacar, anak-anak bandel, jabatan gak naik-naik dan lain-lain. Senang muncul karena sebaliknya.
Susah adalah kondisi hati yang tidak nyaman, bisa berupa stress, tegang, ketakutan, dan hal lain yang sifatnya negatif.
Pertanyaannya adalah,”kadang-kadang kita gak punya duit, tapi hati kok terasa senang atau punya duit tapi hati kok susah, kenapa?”


SUSAH DAN SENANG ADALAH PILIHAN HIDUP
Menurut anda apakah susah atau senang itu nasib?
Ada orang yang mengeluh,”ah, hidup saya rasanya susah terus, memang sudah nasibnya kali untuk hidup susah…”.
Sebenarnya, susah dan senang adalah pilihan hidup. Apakah kita mau hidup susah atau mau hidup senang? Susah dan senang bisa dirancang dalam pikiran kita sebagai sebuah pilihan, dan ketika kita memilih salah satunya, maka kita harus melakukan semua hal yang mendukung jalan mencapai pilihan tersebut.
Selama kita masih hidup, susah dan senang adalah pilihan hidup, dan karenanya senang adalah hak kita.
Pilihlah untuk hidup senang, dan lakukan semua hal yang mendukung jalan mencapai hidup senang.
Beberapa dari semua hal itu bisa anda baca pada tulisan ini.


1. REALITA DAN PERSEPSI
Keadaan luar yang memicu munculnya keadaan susah adalah realita atau fakta yang tak bisa diubah. Ketika kita gak punya duit, faktanya kita gak punya duit pada waktu itu, dan kita tak bisa kembali ke waktu itu untuk mengubahnya menjadi keadaan punya duit.
Fakta-fakta luar itu tidak punya nilai apa-apa (netral). Baru memiliki nilai, negatif atau positif, apabila kita sudah memasukkan persepsi (penilaian) kita. Barangkali kita pernah terjebak kemacetan total dalam sebuah perjalanan. Kondisi macet adalah sebuah realitas yang bersifat netral. Ketika kita punya persepsi bahwa macet akan menghambat kerja atau kita sedang ditunggu atasan kita untuk presentasi, kemungkinan besar kemacetan menjadi pemicu kondisi susah (jengkel). Tapi, mengapa kita cenderung merasa senang (terutama di masa muda) dalam kondisi macet apabila kita duduk bersama orang yang kita cintai?
Contoh lain, apakah hujan yang turun itu penyebab susah atau senang? Tergantung! Bagi petani yang sudah lama gak turun hujan, hujan membuatnya senang. Tapi bagi muda mudi yang sudah janjian bertemu di suatu tempat, hujan membuatnya susah (kecewa). Lalu apa yang salah dengan hujan?
Artinya, tidak ada yang salah dengan realitas atau fakta luar. Yang keliru adalah cara kita mempersepsi (menilai) realitas.
Jadi, yang membuat hidup kita susah sebenarnya adalah diri kita sendiri. Gak punya duit kenapa harus susah? Karena pikiran kita terlalu banyak keinginan. Tapi kita kan perlu makan? Itu mungkin pertanyaan anda…..apakah dengan perasaan susah seperti itu duit akan datang tiba-tiba? Itu pertanyaan saya. Carilah duit dengan keadaan hati senang! Itu solusinya.


2. CIPTAAN YANG SEMPURNA
Tuhan (Allah) merancang skenario kehidupan ini begitu sempurna. Karena sempurna, maka apapun yang menimpa kita (susah atau senang) sudah merupakan skenario kehidupan yang tepat untuk kita saat itu. Detail kejadian, pelaku-pelaku lain yang menyertai perkara yang menimpa kita, bahkan waktu kejadian, sudah dirancang dengan tepat untuk kita. Tidak ada istilah “anda berada pada waktu dan tempat yang salah” ketika mobil yang anda tumpangi diseruduk badak.
Ketika kondisi susah menimpa kita padahal kita orang baik-baik, jangan mengira ada yang salah dengan ciptaan Tuhan. Inilah kunci utamanya,”Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan tidak pernah mendhalimi kita…”


3. SELALU ADA HIKMAH
Karena “Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan tidak pernah mendhalimi kita”, maka keadaan susah yang menimpa kita adalah yang terbaik buat kita pada saat itu. Ketika mobil anda keluar dari garasi menuju tempat kerja, tiba-tiba ban mobil anda nginjak paku dan meletus, padahal anda harus mengikuti pertemuan penting tepat waktu. Jengkelkah anda? Dan mengatakan “sial” untuk hari itu?....tapi bagaimana perasaan anda ketika satu jam setelah itu dan anda terlambat, tiba-tiba ruangan pertemuan dimana anda seharusnya berada hancur kena bom teroris?.....anda pasti berkata,”untung ban mobil saya meletus!”.
Selalu berpikir “hikmah” dibalik kesusahan yang menimpa kita. Meskipun kita belum sanggup memikirkan hikmah apa di balik semua itu, tetaplah yakin bahwa yang menimpa kita adalah yang terbaik untuk kita.
Ketika sumber masalah muncul katakan dalam hati,”Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku dengan keadaan ini!”


4. JANGAN BERHARAP PUJIAN ORANG
Berharap akan pujian orang akan mendorong rasa “susah” dalam diri kita. Ketika seorang ibu muda berdandan rapi untuk suaminya; bibir dibikin merah merekah, pipi dipoles bedak kemerah-merahan, dengan berharap suaminya memujinya setengah mati. Tapi ketika suaminya cuek saja dengan penampilannya, tak ada kata pujian sepatahpun untuknya, maka kecewalah sang ibu muda itu.
Tidak sedikit karyawan kantor merasa kecewa dengan kerja kerasnya hanya karena sang bos tidak pernah memujinya.
Berbuatlah dengan ketulusan hati dan biarlah Tuhan yang memuji kerja keras kita karena Tuhan tidak pernah lengah sedikitpun dan Dialah sebaik-baik pemberi balasan.
Katakanlah pada diri sendiri,”Tuhan, saya persembahkan pekerjaan ini untuk orang-orang yang saya cintai/hormati!”.


5. JANGAN BERHARAP ORANG LAIN MEMAHAMI KITA
Pernahkah anda mengalami sulit tidur di siang hari hanya karena anak-anak anda membikin keributan di luar kamar? Semakin anda memikirkan kelakukan anak-anak semakin sulit anda tidur. Semakin anda berharap anak-anak memahami anda, semakin sulit anda tidur?
Keadaan akan lain apabila anda mencoba memahami anak-anak anda. Anda fahami bahwa itulah dunia anak-anak, semakin anda memahami dunia anak-anak anda, akan semakin dalam anda tidur dan pulas! Dijamin!
Ketika anda nginap di rumah keluarga di pinggir jalan raya, mungkin tidur anda akan merasa terganggu untuk beberapa saat (karena anda belum memahami keadaan), tapi lama kelamaan anda akan terbiasa dan semakin memahami keadaan, maka suara bisingpun tak akan mampu mengganggu tidur pula anda.
Fahamilah keadaan luar diri anda dan jangan paksakan keadaan luar memahami anda! Katakanlah pada diri sendiri,”kalau saya menjadi dia/mereka, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama!”


6. TERJEBAK HAL SEPELE
Seringkali kita merasa susah karena hal-hal sepele. Gara-gara kaos kaki tidak ada sebelah ketika seorang suami hendak pergi ke kantor, sang suami marah-marah sama istrinya. Atau karena sang istri lupa menjahit kancing baju kantor suaminya, sang suami jadi jengkel dan emosi.
Tanpa kita sadari, hal-hal sepele semacam itu seringkali menjebak kita ke dalam kehidupan yang susah (jengkel, kecewa). Biasanya kejengkelan semacam ini tidak bisa redam seketika walau sumber masalah sudah terselesaikan.
Haruskah kita korbankan kebahagiaan hidup kita hanya karena perkara sepele? Haruskah tujuan kita berumah tangga menjadi berantakan hanya karena masalah kecil?
Disaat masalah sepele muncul, segera ingatlah tujuan besar hidup kita (tujuan berumah tangga, tujuan mengelola perusahaan), dan katakan dalam pikiran kita,”saya tidak akan mengorbankan kebahagiaan hidup saya hanya karena masalah ini!”….


7. KALAU MEMANG SUDAH KEHARUSAN, MENGAPA HARUS SUSAH?
Kondisi fisik yang lelah memang bisa memicu emosional kita.
Ketika seorang ibu rumah tangga, baru beres membersihkan halaman depan dengan rasa lelah, saat pergi ke kamar cucian tampak cucian yang harus dia cuci menumpuk, biasanya suka timbul rasa susah (keluh kesah) apalagi anak-anak merengek-rengek minta jajan.
Demikian juga di tempat kerja lain, bila pekerjaan menumpuk biasanya suka uring-uringan apalagi kalau diburu waktu. Pekerjaan tersebut memang sudah menjadi keharusan diri kita untuk mengerjakannya, anehnya… dengan rasa jengkel atau dongkol kita mengerjakan juga pekerjaan itu (tentu dengan hasil yang tidak begitu bagus).
Kadang kita tak mengerti diri sendiri: sudah dongkol, dikerjakan juga pekerjaan itu. Kalau memang pekerjaan itu sudah menjadi keharusan kita untuk mengerjakannya, mengapa harus dengan dongkol hati?
Sebelum memulai pekerjaan menumpuk yang mendongkolkan hati, katakanlah pada diri sendiri,”saya senang mengerjakan pekerjaan ini, karena ini sudah menjadi tugas saya!”


8. WASPADA DENGAN BERITA BURUK
Omongan orang tentang diri kita, akan mempengaruhi kondisi hati kita. Celakanya, bila omongan orang lain itu negatif, perasaan dan fikiran kitapun jadi susah (jengkel, marah, benci).Waspadalah dengan berita buruk! Terkadang omongan orang pertama tidaklah seburuk omongan si penerus berita, bisa jadi si penerus berita itu orangnya suka mendramatisir suasana dengan gaya bicara yang serius.
Bila orang yang membicarakan kita itu adalah orang yang tidak kita sangka akan ngomong hal itu (mungkin karena teman dekat), maka katakanlah dalam hati,”Tuhan sedang menegur saya lewat dia, maafkan saya, Tuhan!”
Bila si penggunjing itu orang yang sudah dikenal sebagai penggunjing atau suka ngrumpi, katakanlah dalam hati,”Saya sudah maklum, maafkan dia, Tuhan!”.


9. HATI-HATI DENGAN LAMUNAN BURUK/PRASANGKA
Bila kita sedang menghadapi sebuah persoalan, seringkali kita memikirkan hal yang terburuk dari persoalan itu. Ketika suami tugas keluar kota, tidak sedikit si istri berfikir yang lain-lain,”jangan-jangan suamiku ketemu wanita lain yang lebih cantik, terus berkenalan, terus makan bareng, terus…terus….” Semakin terus berfikir negatif, semakin tersiksa perasaan dan hatipun jadi susah. Padahal belum tentu sang suami berbuat seperti apa yang si istri lamunkan.
Cobalah berfikir yang positif, yang menggembirakan hati, jangan menduga-duga yang menyiksa perasaan sendiri,”aku percaya suamiku,dia seorang pekerja ulet, dia bekerja untukku!”
Konon katanya, apabila kita berfikir yang buruk, keburukan itu suatu ketika akan datang menghampiri kita persis seperti apa yang kita fikirkan. Fikiran yang buruk bagaikan sebuah magnet, yang akan menarik keadaan luar yang memiliki karakter yang sama dengan apa yang difikirkan. Bukankah Allah sudah berfirman dalam hadits qudsi-Nya,”Aku bagaimana sangkaan hamba-Ku, apabila hambaku berprasangka buruk, maka keburukan itu akan kuberikan padanya, bila hamba-Ku berprasangka baik, maka kebaikan itu akan kuberikan padanya..”.
Jadi, melamunlah hal-hal yang menyenangkan!


10. KHAWATIR DENGAN SESUATU YANG BELUM TERJADI
Pikiran kita memang ajaib. Bisa menerawang ke masa depan, bisa pula menengok ke masa lalu. Kemampuan pikiran seperti itu kalau diabur begitu saja akan membuat hidup susah. Mengingat kembali penghinaan orang atau kekecewaan kita dimasa lalu, bisa membangkitkan kembali emosi negatif (kecewa, marah, dendam,dll). Menerawang ke masa depan (melamun) tentang hal-hal yang buruk, seperti: membayangkan bagaimana buruknya keadaan apabila suami sudah meninggal, bagaimana dengan biaya sekolah anak-anak, bagaimana dengan hutang-hutangnya; bisa membuat hati jadi susah (padahal keadaan itu belum terjadi).
Apabila masa lalu yang menyakitkan itu suka terlintas dalam pikiran kita, katakanlah dalam pikiran kita,”Semua sudah berlalu, saat ini saya sedang bahagia” kemudian paksakan tersenyum.
Apabila lamunan buruk tentang masa depan muncul, segera lamunan itu dibalik menjadi lamunan yang menyenangkan, dan katakan dalam pikiran kita,”Saya pasti akan senang, Tuhan pasti akan menjamin kehidupanku dan anak-anakku!”.

11. KECEWA DO’A BELUM DIKABULKAN
Tentunya kita punya keinginan yang selalu kita sampaikan kepada Tuhan (Allah) dalam bentuk do’a. Keinginan yang disampaikan lewat doa yang sering diucapkan adalah keinginan yang diharapkan segera terwujud, apalagi dalam keadaan terdesak. Semakin kita berharap keinginan itu segera terwujud, akan semakin kecewa kita bila Tuhan belum juga memberikan apa yang kita minta. Seperti do’a orang yang terlilit hutang, sementara jatuh tempo sudah dekat. Ia akan kecewa bila do’anya belum dikabulkan.
Bila hal ini terjadi, ingatlah sebuah perumpamaan, seperti seorang ayah yang tidak mau membelikan anaknya sepeda, padahal si anak selalu merengek-rengek. Apakah si ayah tidak sayang pada anaknya, padahal dia mampu membeli sepuluh sepeda? Si ayah tidak membelikan sepeda karena ia tahu anaknya masih kecil, belum siap memakainya, lagipula rumahnya di pinggir jalan raya yang tiap saat banyak kendaraan lewat. Jadi, si ayah tidak membelikan sepeda agar anaknya saat itu selamat dari kecelakaan di jalan.
Do’a kita belum terwujud saat ini bisa jadi ada kerugian besar menimpa kita bila keinginan itu dikabulkan saat ini, karena Tuhan tahu kita belum siap menerimanya


Sumber : Guru Agus hermawan Pendiri BMT al - Amanah Sumedang
Semoga beliau selalu di berikan kesehatan oleh allah dan dalam lindungannya. amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KH. MA'RUF AMIN (KETUA MUI)