9 Jan 2011

KARTU KELUARGA


Lokasi Pelayanan : Kantor Kelurahan 
 
Waktu Pelayanan : 1 hari 
 
Tarif : Gratis

Kartu Keluarga adalah Kartu Identitas Keluarga yang memuat data tentang susunan, hubungan dan jumlah anggota keluarga. 
 
Kartu Keluarga wajib dimiliki oleh setiap keluarga. Kartu ini berisi data lengkap tentang identitas Kepala Keluarga dan anggota keluarganya.

Kartu keluarga dicetak rangkap 3 yang masing-masing dipegang oleh Kepala Keluarga, Ketua RT dan Kantor Kelurahan.

Perubahan Data

Setiap terjadi perubahan data dalam Kartu Keluarga seperti karena terjadi peristiwa Kelahiran, Kematian, Kepindahan, dll, Kepala Keluarga wajib melaporkan ke kelurahan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja. Setiap melaporkan perubahan ke Kantor Kelurahan, harus membawa 2 (dua) lembar Kartu Keluarga yaitu yang disimpan oleh Kepala Keluarga dan oleh Ketua RT. 
 
Dari hasil perlaporan tersebut akan diterbitkan Kartu Keluarga baru.
 
Kepindahan

Apabila suatu keluarga pindah seluruhnya ke tempat lain, maka Kartu Keluarga yang disimpan di Kepala Keluarga dan di Ketua RT harus diserahkan kepada Lurah (dicabut). Di tempat tinggal yang baru, berdasarkan Surat Keterangan Pindah, Lurah akan memberi Kartu Keluarga yang baru. 
 
Persyaratan Pembuatan KK

Untuk membuat Kartu Keluarga harus melengkapi syarat-syarat berikut:
  1. Surat Pengantar dari Pengurus RT/RW
  2. Kartu Keluarga Lama
  3. Surat Nikah atau Akta Cerai bagi yang membuat KK karena perkawinan / perceraian
  4. Surat Keterangan Lahir / Akta Kelahiran
  5. Surat Pengangkatan Anak
  6. Surat Keterangan Pendaftaran Penduduk Tetap bagi WNA
  7. Surat Keterangan Pelaporan Pendatang Baru (SKPPB) bagi pendatang dari luar DKI Jakarta
  8. Surat Keterangan Pindah bagi penduduk yang pindah antar kelurahan dalam wilayah DKI Jakarta
 
Perhatian

Kartu Keluarga (KK) adalah Dokumen milik Pemda Propinsi DKI Jakarta dan karena itu tidak boleh mencoret, merubah, mengganti, menambah isi data yang tercantum dalam Kartu Keluarga.
Setiap terjadi perubahan karena Mutasi Data dan Mutasi Biodata, wajib dilaporkan kepada Lurah dan akan diterbitkan Kartu Keluarga (KK) yang baru
Pendatang baru yang belum mendaftarkan diri atau belum berstatus penduduk DKI Jakarta, nama dan identitasnya tidak boleh dicantumkan dalan Kartu Keluarga.

3 Jan 2011

Profil: Edward Lestarikan Tradisi Kesultanan

KESULTANAN Lampung mungkin saja tidak akan menyandang nama yang cukup dihormati, terutama di kalangan masyarakat adat Nusantara, tanpa peran Sultan Edward Syah Pernong. Berkat kiprah dan usaha keras dari sosok yang berkomitmen tinggi melestarikan beragam seni tradisi dan adat istiadat tersebut, sejumlah warisan tradisi Kesultanan Lampung masa silam yang pernah terancam pudar kini tetap bertahan karena terjaga dengan baik.

Edward Syah Pernong (ONI)

Ketika ditemui di sela-sela Kirab Agung atau pawai budaya yang menandai dibukanya kegiatan Festival Keraton Nusantara VII di kawasan Benteng Kuto Besak, Kota Palembang, Sabtu (27/11), Sultan Edward terlihat sibuk berbincang dengan para hulubalang, prajurit, dan sejumlah punggawa Kesultanan Lampung yang saat itu sedang bersiap-siap untuk memulai Kirab Agung.

”Sebelum giliran kita, saya hendak menyampaikan satu hal tentang pentingnya makna Kirab Agung. Kirab ini jangan hanya dimaknai sebagai prosesi jalan kaki atau pawai, tetapi kirab ini menjadi bukti bahwa Kesultanan Lampung masih berdiri sampai sekarang. Jadi, saya minta jangan mencoreng citra Kesultanan kita sendiri,” ucap pria kelahiran Bandar Lampung, 27 Februari 1958, itu.

Meski terlahir sebagai putra mahkota kesultanan, Edward Syah Pernong, yang kerap disapa Paksi Pernong ini, tidak serta-merta menjadi orang yang tinggi hati. Sebaliknya, dia memiliki banyak kawan yang berasal dari beragam profesi, mulai dari wartawan, guru, pejabat, bahkan anak yatim-piatu.

Melestarikan adat

Ketika memasuki masa persiapan sebagai Sultan, Edward mempelajari beragam hal, mulai dari ilmu pasti, komik fiksi, ilmu sejarah dan budaya, serta ilmu bela diri. Bagi Edward, setelah memasuki era abad ke-20, jabatan sebagai Sultan tak hanya disimbolkan sebagai penguasa adat dan budaya saja, tetapi juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

”Prinsip ini ternyata ada gunanya. Karena saya selalu menekankan pentingnya membuka diri dan mata bagi masyarakat Indonesia dan mancanegara, ternyata banyak orang yang bersimpati. Dampaknya, Kesultanan banyak menerima bantuan yang bisa digunakan untuk melestarikan peninggalan masa lalu,” kata Sultan Lampung yang ternyata juga berprofesi sebagai polisi berpangkat Komisaris Besar sekaligus menjabat sebagai Kepala Polresta Semarang ini.

Selama memimpin Kesultanan Lampung, Edward menyelamatkan sejumlah aset penting masa lalu yang nyaris tak terurus, seperti payung agung, lalamak, titi kuya, dan jamban agung. Selain itu, Edward juga merumuskan tatanan kirab pergantian takhta dan melestarikan tarian kuno. (ONI)

Sumber: Kompas, Senin, 29 November 2010
Sumber : http://ulunlampung.blogspot.com/2010/11/profil-edward-lestarikan-tradisi.html