8 Okt 2016

Marwah Daud Ibrahim

Mengawali hidupnya di pedalaman Soppeng, sebuah kecamatan di wilayah Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer utara Kota Makassar.[3][4]
Kecerdasannya dikenal sejak sekolah dasar. Ia tak sampai kelas enam, karena begitu menginjak kelas lima ia ikut ujian akhir, dan lulus sebagai juara. Marwah muda kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Pacongkang, dan lulus 1970. Selanjutnya ia menginjakkan kakinya ke SPG Negeri Soppeng, Namun di kelas dua dia pindah ke SPG Negeri I Ujung Pandang, lulus tahun 1973.[5]
Era inilah ia mulai menapakkan kakinya ke jenjang yang lebih jauh, entah disadari atau tidak. Pada tahun 1974 untuk pertamakalinya dia berkunjung ke Jakarta dan masuk Istana Negara atas undangan Kepala Negara. Ia terpilih sebagai pelajar teladan se Sulawesi Selatan.
Ia banting setir, tidak lagi tergiur mengikuti ayahnya yang menjadi guru. Ia melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin yang diselesaikan tahun 1981. Selanjutnya, ia kembali terpilih sebagai mahasiswa teladan se Sulawesi dan mengantarnya ke forum nasional di Jakarta, bertemu kepala negara bersama para teladan se Indonesia. Saat itu juga dia sudah mulai terkenal sebagai seorang aktivisis di kampusnya.[6]
Prestasinya belum berhenti. Berbekal beasiswa, ia terbang ke Amerika untuk meraih master di American University, Washington DC, Amerika Serikat, jurusan Komunikasi Internasional, tahun 1982. Namun, sebelumnya ia menikah dulu dengan Ibrahim Tadju, rekan sesama aktivis semasa kuliah di Ujung Pandang. Di Amerika ia pun mengisi waktunya dengan bekerja sebagai asisten peneliti Unesco, dan Bank Dunia.
Tampaknya ia memang berjodoh dengan Amerika, begitu meraih gelar Master, ia bekerja di BPPT. B.J. Habibie, ketua BPPT saat itu, memberinya beasiswa ke Amerika lagi. Di universitas yang sama, ia mengambil Komunikasi Internasional bidang satelit, dan meraih gelar doktor tahun 1989 sebagai lulusan terbaik (distinction).
Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia bergabung dengan organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), dengan menjabat sebagai Sekretaris Umum. Selain itu, ia aktif di Partai Golkar, partai yang membawanya ke gedung parlemen. Gaya komunikasi politiknya mulai menarik banyak pihak ketika Sidang Umum MPR 1998 saat muncul rumor akan meraih kursi di Kabinet Pembangunan IV.[7]
Pada Pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Marwah sempat dipilih sebagai calon Wakil Presiden Indonesia mendampingi K.H. Abdurrahman Wahid. Namun, pasangan yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa tersebut tidak lolos verifikasi karena berdasarkan tes kesehatan, Abdurrahman Wahid dinilai tidak memenuhi kesehatan. [8]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • SD Pacongkang, Sulsel (1967)
  • SLTP di Pacongkang, Sulsel (1970)
  • SPG Negeri 1 Makassar (1973)
  • S1 Univ. Hasanuddin Makassar (1981)
  • S2 The American University Washington DC (1984)
  • S3 The American University Washington DC

Karier[sunting | sunting sumber]

  • Anggota DPR RI
  • BPP Teknologi
  • Staff KBRI, Washington DC
  • Asisten Peneliti Bank Dunia
  • Dosen Pasca Sarjana
  • Pelatih Utama MHMMD
  • Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
  • Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Marwah Daud Ibrahim.jpg


SUMBER : https://id.wikipedia.org/wiki/Marwah_Daud_Ibrahim

Kanjeng Dimas Taat Pribadi



 adalah seorang pria asal Desa Wangkal, Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo, Jawa timur. Ia terkenal baik di dunia nyata ataupun dunia maya, terutama situs berbagi Video, Youtube.

Ia dikenal sebagai sosok manusia sakti yang mampu mengambil uang secara gaib. Video-Video yang beredar di Media Sosial menunjukkan secara terbuka dia bisa mengeluarkan uang dari belakang tubuhnya sambil duduk di kursi kebesarannya, dengan jubah putih yang selalu dipakainya.

Sebelumnya dia tidak memilki padepokan. Namun setelah dikenal banyak kalangan, ia lalu mendirikan padepokan yang umum disebut padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Belasan tahun lalu, masyarakat kabupaten Probolinggo dihebohkan dengan acara yang di gelar. Yakni memberikan uang kepada fakir miskin dan anak yatim sebesar 1 Milyar di lapangan di desa setempat.

Sejak bagi-bagi uang gaib, Nama Kanjeng Dimas terus populer. Bahkan, pada senin (11/1/2016) lalu, ribuan warga memenuhi Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.


Ditangkap Polisi

Pada hari kamis pagi , 22 September 2016, padepokan Kanjeng Dimas dikepung tak kurang dari 600 personel dari Polda Jatim. Pengepungan ini untuk mengamankan proses penagkapan Kanjeng Dimas yang diduga menjadi otang pembunuhan kedua santrinya yang bernama Abdul Gani yang ditemukan meninggal tidak wajar di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah pada 4 April 2016 dan Ismail warga Situbondo yang ditemukan meninggal bersimbah darah di kecamatan Tegalsiwalan, kabupaten Probolinggo pada Februari 2016.

Korban Abdul Gani dikeroyok dan lehernya dijerat dengan tali. Ia tewas di area padepokan. Mayat korban lantas dinaikkan mobil dan dibawa ke Wonogiri, Jateng pada malam hari untuk dibuang. Korban dibuang di bawah jembatan daerah Wonogiri dan nyaris tak terlihat oleh warga.

Ismail Hidayah asal Situbondo sebelum dihabisi para sultan (pengepul uang) tersangka Kanjeng Dimas Taat Pribadi, ternyata diculik dari rumahnya pada tengah malam.
Ia dihajar habis-habisan oleh delapan orang di sebuah jalan areal persawahan hingga tewas dijerat dengan tali.


Sumber:
Masih Ingat Kanjeng Dimas? Kini Ia Dicokok Polda Jatim Karena Bunuh Orang Yang Bongkar Kedoknya

Kanjeng Dimas

Kanjeng Dimas

pesan : HARUS HATI-HATI DALAM SEGALA HAL.. JANGAN GAMPANG TERPENGARUH

GUBERNUR DKI JAKARTA SEKARANG